Friday, 5 October 2007

sonyericsson k300i

Setelah hape motorola e398 ku nan tersayang di copet, aku sebetulnya agak-agak malas untuk membeli hape lagi, apalagi yang fiturnya macam-macam. Setelah sempat berputar-putar kebingungan di roxi, akhirnya mataku tertumbuk pada sebuah hape mungil, sonyericsson k300i. Entah kenapa rasa trauma pasca kecopetan membuatku makin terobsesi pada hape mungil dan kompak dengan fitur sederhana. Tadinya sempat ku tertarik pada panasonic yang tipis itu tapi ternyata fiturnya parah jadi ku beralih ke SE.

Selain bentuknya yang lucu dan kompak, fiturnya sebenarnya cukup lumayan. Bentukannya minimalis, sederhana. Keypad nya cukup nyaman digunakan. Joystick nya begitu juga. Layarnya memang kucil, dengan resolusi 128x128pixels dan berjenis CSTN. Jadi tampilan layarnya terlihat kasar dan pucat. Di sebelah belakang ada grill loudspeaker yang mendendangkan suara ringtone, cukup kencang namun agak terdengar garing tanpa dinamika. k300i ini sudah support ringtone mp3. Walau dengan memori sekitar 10mb an harus pintar2 mengatur supaya tidak kehabisan memori. Akselerasi antar menu cukup cepat. Hasil test dengan jbenchmark nya bahkan jauh melebihi nokia 6600 milik temanku. Menjalankan berbagai game java tak pernah terasa lambat seperti halnya pada handset motorola, namun lagi-lagi terbentur masalah resolusi layar yang kucil hingga tidak bisa memainkan berbagai game menarik. K300i ini dilengkapi kamera VGA terintegrasi dengan tombol akses cepat di bagian samping bodi ponsel. Hasil jepretan nya masih kalah dibanding kamera VGA nya motorola e398, meski reaksi penangkapan gambarnya lebih cepat. Ada pilihan ukuran hasil foto extended yang menghasilkan foto megapixel-megapixelan alias diperbesar dengan interpolasi. Untuk konektifitas, K300i sekedar mengandalkan infrared yang lumayan lelet untuk mentransfer file-file besar. Namun kini tak ada batasan besaran file yang ditransfer seperti pada alcatel 756. Tidak ada keluhan berarti tentang handset yang satu ini kecuali layarnya yang agak parah. Soal ketiadaan memory eksternal cukup bisa dimaklumi mengingat kisaran harga yang dipatok.

Thursday, 4 October 2007

motorola e398 yang pertama

Motorola e398 sudah sejak lama saya impi-impikan sejak saya lihat iklannya pertama kali di mtv. Fiturnya sepertinya lengkap banget. Jadi begitu harganya turun dan mendekati 2 jutaan langsung saya membelinya. Bentuknya klasik, nggak neko-neko, kotak dengan sudut-sudut halus membulat. Dengan warna hitam dan tekstur yang agak kesat hingga tidak licin dipegang. Di sekelilingnya ada list metalik dengan logo motorola. Di kanan dan kiri agak keatas bercokol speaker stereo dengan lampu didalamnya. Layar TFTnya tidak terlalu besar walau beresolusi 176x220 dengan kedalaman 65k warna. Sepintas dibanding alcatel 756 ku layarnya tidak lebih bagus meski resolusi nya lebih besar.Keypadnya berukuran sedang dengan warna metalik. Cukup enak buat mengetik. Di bagian belakang ada lubang rana kamera beserta sebuah bintik kuning yang ternyata adalah lampu flash nya.

Namun apa daya. Baru sekitar 2 bulanan hape itu saya miliki, belum sempat diutik-utik lebih jauh(baru sebatas memasukkan ringtone,gambar, dan games), hape kesayanganku itu lenyap dicopet di dalam bis mayasari bakti nomor 15 jurusan kampung rambutan-blok m.

alcatel 756

alcatel756.
Setelah c550 yang imut itu, aku beralih ke alcatel 756.
Kali ini aku terpengaruh pembicaraan rekan-rekan dari forum alcatel di forumponsel.com.
Dan memang tidak salah. Alcatel 756 ini memang cantik luar dalam. Bentuknya khas, sangat beraroma perancis. Warnanya merah marun yang saya sangat suka, dengan list metalik dan tombol semi transparan yang enak sekali buat mengetik. Layarnya walau hanya beresolusi 128x160pixels tapi fisiknya cukup besar. Dan kualitas tampilan gambarnya pun sangat bagus, halus dan jernih. Nyaman dipegang, nyaman pula untuk dipelototi karena tampilan dalamannya yang cukup menarik. Tampilan UI nya sangat khas, menyenangkan untuk digunakan. Kali ini 756 sudah support file mp3. Namun karena memory internalnya hanya sekitar 5MB jadi tetap saja mp3 yang dimasukkan sebatas potongan-potongan untuk ringtone. Ditambah lagi konektifitasnya melalu infrared membatasi file transfer dari PC ke handset hingga maksimal 150kb. Untungnya alcatel sudah menyertakan cd software untuk berbagai keperluan seperti mengedit gambar, memotong mp3 maupun video untuk dimasukkan ke dalam 756. Kualitas suara ringtone alcatel 756 ini cukup membanggakan. Selain itu alcatel 756 ini sudah support java. Bermain game dengan layar lebar 756 sangat menyenangkan. Sama seperti ringtone atau wallpaper, game java juga bisa ditransfer melalui infra red atau mendownload langsung via gprs.
Kamera VGA yang ada di handset ini juga lumayan bagus, didukung dengan tampilan viewfinder di layarnya yang sangat jelas dan berbagai berbagai pengaturan kamera yang sangat membantu. Hanya saja kadang di bagian pinggir-pinggir hasil foto agak nge blur. Secara umum alcatel ini sangat memuaskan terutama dalam hal layar. Kelemahannya adalah dalam hal memory dan konektifitas jarak dekat yang agak lemah.

motorola c550

motorola c550
Nah, kalo yang ini adalah hape perama saya yg berlayar warna dan sekaligus yang pertama yang berkamera terintegrasi. Pertimbangan pada waktu mau beli ya sudah jelas ada kameranya itu. Lalu bentuknya juga kucil dan lucu. Kira-kira masih imbang dengan siemens c55 yang kupakai sebelumnya.

Bentuknya agak sedikit kotak dengan warna casing yang dominan abu-abu metalik dengan sedikit warna hijau di keypad dan sekeliling layar. Keypadnya juga kecil-kecil dan agak menonjol. Tidak terlalu nyaman digunakan untuk mengetik. Untuk navigasi ada navi pad 4 arah dengan tombol menu khas motorola di tengahnya. Layarnya sudah berwarna. Namun hampir bisa dibilang agak sia-sia karena resolusinya yang sangat kecil, yaitu hanya 101x80pixels. Gambar tertampil kasar di layarnya. Saat berfungsi sebagai viewfinder kameranyapun tidak begitu jelas. Hampir seperti bermain tebak-tebakan gambar apa yang ada dilayar. Tapi kondisi ini bisa sedikit diatasi dengan menggunakan wallpaper yang berwarna cerah dengan kontras tinggi. Dengan begitu tampilan layar saat standby jadi nggak terlalu parah-parah amat. Hehehe. Kameranya ber resolusi VGA. Lumayan sih sebetulnya pada saat itu, karena banyak hape lain yang kameranya baru sebatas CIF. Namun seperti seperti sudah disebut sebelumnya, layarnya yang imut menjadi kendala saat digunakan membidik foto. Susah untuk menghasilkan gambar yang bagus karena yang terlihat dilayar sangat tidak jelas.
Dari segi audio juga sudah mendukung ringtone midi dan amr. Sedikit mundur dari siemens c55 yang sudah mendukung file wav.
Handset ini juga sudah support aplikasi java. Jadi bisa diinstall game dan aplikasi baru, yang tentunya kini support games berwarna. Tapi lagi-lagi terbentur di permasalahan resolusi layar yang menyebabkan banyak game tidak bisa dimainkan karena ukuran layar c550 yang terlalu kecil.
Untuk koneksi, satu-satunya jalan untuk menghubungkannya ke PC adalah dengan kabel miniUSB. Dengan catatan terlebih dahulu meng install driver nya di PC. Oya memori internal hape ini cuman sekitar 2mb an. Tapi cukup wajar mengingat baru sekedar support ringtone midi dan amr.
Yang jelas kuingat, c550 ini adalah pengalaman pertamaku mulai mengutik2 daleman hape, dalam hal ini khususnya motorola. Waktu itu aku sekedar mengganti-ganti tampilan menunya dan menghapus ringtone-ringtone bawaannya.

siemens c55

siemens c55.
Ini dia hape pertama yang saya beli dengan uang gaji sendiri. Pertimbangan waktu akan membeli handset ini adalah bentuknya yang imut, changeable cover, gprs dan java enabled(walau saat itu sebenarnya saya masi agak meraba-raba tentang pengertian gprs dan java).

Saya beli c55 berwarna putih semu kuning lemon(nah lho, bingung kan?) yang casing nya glow-in-the-dark. Casing nya memang gampang sekali dilepas dan diganti-ganti. Langsung saja saya membeli casing pengganti dengan bermacam warna aneh. Hehehe. Bentuknya yang imut enak dipegang dan keypad nya tetap enak dipake buat ber-sms ria walau tombolnya agak kecil-kecil.

Tentang jerohan-nya, siemens c55 cukup memuaskan(pada masanya tentu saja). Dengan harga sejutaan saya sudah mendapat handset dengan ringtone midi, wav, dan amr. Bisa rekam suara. Layarnya masih monokrom tapi sudah bisa pasang logo dan screensaver. Support file gambar bmp,bmx monokrom. Dengan gprs nya dia jadi bener2 ber-daya dalam hal personalisasi untuk mencari-cari ringtone dan logo-logo baru. Gprs nya juga memungkinkan saya untuk mendownload game-game maupun aplikasi baru berbasis j2me ke dalam handset saya. Saat itu bisa mendownload game ke dalam hape bener-benar suatu hal yang sangat baru dan hampir tak terbayangkan sebelumnya. Siemens c55 benar-benar seperti suatu petualangan baru dengan kemampuannya menjelajah alam maya. Suatu lompatan dari c35 yang nyaris tanpa personalisasi. Pada masa pemakaian c55 inilah saya benar2 gila2an bongkar pasang game di hape via gprs. (lagipula hanya itu sarana koneksi yang saya miliki, kabel data c55 terlampau mahal, sekitar 300ratus ribu-an)

siemens c35

Siemens C35 adalah salah satu handset yang saya gunakan cukup lama. Dari mulai saya beli menjelang kelulusan dari universitas hingga 1,5 tahun pertama saya kerja di Jakarta.

Saya ingat waktu itu saya benar-benar awam soal handphone. Saat berputar-putar di suatu pusat perdagangan hape di Jogja, dalam benak saya sama sekali belum ada bayangan handset seperti apa yang akan saya beli. Yang jelas saya ingat bahkan meski ketika itu saya masih asing dengan dunia per-hape-an pun, saya sudah memiliki kecenderungan untuk memilih merk selain Nokia. Waktu itu saya lebih memilih untuk mencari siemens. Sempat melihat Siemens c25 bekas pakai di salah satu counter. Saya sudah tertarik melihat bentuknya yang lucu seperti pisang ramping. Tapi abang saya menyarankan untuk melihat-lihat ke tempat lain dahulu. Akhirnya kami menemukan sebuah counter yang memajang kotak Siemens C35. Melihat bentuk dan warnanya yang biru tua saya cukup tertarik. Apalagi setelah menanyakan harganya. Pas sekali dengan budget yang sudah ditetapkan. Maklum namanya juga masih dibelikan ortu. Jadi mau nggak mau ya harus ngikut budget ketat itu.
Jadilah saya beli siemens c35 berwarna biru tua. Fiturnya tidak ada yang luar biasa. Ya cukup tipikal hape pada masa itu lah. Layar monokrom. Ringtone monofonik. Bisa sms. Ada scheduler.Ada ringtone composer dan selipan-selipan grafis untuk sms sudah cukup menghibur pada waktu itu. Ada beberapa games yang kalau dipikir2 dari sudut pandang sekarang sangat membosankan. Tapi untuk saat itu sudah sangat beruntung memiliki games dalam hape. Yang jelas hape jadul macam ini justru lebih tangguh. bahkan hingga tahun 2007 ini pun handset ini masih bisa berfungsi dengan cukup baik. Hanya baterai nya saja yang kadang mendadak drop.

Thursday, 27 September 2007