Showing posts with label hape siemens. Show all posts
Showing posts with label hape siemens. Show all posts

Wednesday, 14 November 2007

siemens c75

C75 sebenarnya sangat mirip dengan cx75, karena itu saya akan lebih memfokuskan ke perbedaan di antara keduanya.
Perbedaan pertama yang amat jelas bentuknya(ya namanya juga beda seri). Meski sama-sama berseri c, hanya dengan beda x saja, bentuk cx menjadi lebih ndut dan aneh. Sementara c75 lebih beruntung dengan bentuk yang simple namun tetap elegan.
Cx75 dilengkapi slot memory eksternal berjenis rs-mmc sedangkan c75 hanya mengandalkan memory internal sebesar 10mb-an.
Keberadaan slot memory eksternal pada cx75 mengakibatkan adanya music player pada cx75 dan disupportnya file-file musik berjenis mp3 dan aac oleh cx75. Siemens c75 hanya support file wav. Satu kekurangan yang cukup fatal, apalagi mengingat ketiadaan slot memory eksternal pada c75, sementara file wav pada umumnya mempunyai besaran yang menghabis-habiskan memory(kalo mau masi berkualitas 'listenable').
Lalu c75 berkamera VGA sementara cx75 sudah 1,3mp. Perilaku dan kecenderungan kamera kedua ponsel ini masih mirip-mirip saja,terutama dalam nuansa warna hasil foto. Kecuali kenyataan bahwa kamera cx75 lebih mampu menghasilkan foto yang lebih jernih dan tajam. Hasil jepretan kamera c75 sering terkesan overbright dan kadang ngeblur.
Seingat saya sih perbedaan kedua ponsel tersebut cuman sebegitu saja.(ntar kalo ada lagi yang inget disambung lagi. Hehehe).
Keunggulan c75 dari cx75 memang sekedar bentuknya saja, namun hal ini wajar mengingat kelas kedua ponsel ini berbeda dan terpaut lumayan jauh pada masanya.

Tuesday, 9 October 2007

siemens cx75

Dari motorola kembali ke siemens. Kali ini siemens cx75. Bentuknya aneh dengan puncak(kepala) yang 'peyang' sebenarnya sempat membuatku ragu untuk membelinya. Apalagi waktu itu harganya masi agak mahal. Namun fitur-fiturnya cukup lengkap akhirnya membuatku menyerah dan membelinya.
Bentuknya agak gendut dan aneh, terutama kepalanya yang 'peyang'. Keypadnya cukup enak tapi joysticknya yang berujung bulatan silikon berulang kali bermasalah. Ujung silikonnya rupanya hanya dilem dengan tidak begitu kuat dan mudah sekali lepas. Berkali-kali lapisan silikon itu lepas hingga akhirnya hilang karena kecilnya dan transparannya. Aku sempat berusaha cuek dengan ketiadaan lapisan silikon. Namun rasa sakit pada jempolku memaksaku untuk membawanya ke customer service siemens di SCBD.
Layar CX75 berkedalaman 262k warna dengan resolusi 132x176pixels. Resolusi yang aneh. Hanya handset-handset siemens yang menggunakan resolusi ini setahu saya. Imbas dari resolusi layar yang tidak biasa ini terutama terasa saat mencari2 games yang sesuai untuk handset ini.Sebetulnya layarnya tampak cukup bagus dan cerah. Namun mungkin karena resolusi yang tidak terlalu besar membuatnya tampak tidak begitu padat dan agak kasar.
Suara speaker saat membunyikan ringtone agak kasar dan pecah. Banyak file midi yang bagus saat diputar di handset lain merk terdengar sember dan tak keruan saat diputar di cx75 ini(hal ini akhirnya saya temukan dialami juga oleh siemens c75, dan mungkin juga siemens-siemens lain). Untungnya cx75 sudah mengenali file mp3 dan aac, dan bisa menggunakannya sebagai ringtone. Namun tetap saja terdengar seperti kebanyakn treble dan berisik. Sudah ada music player pada siemens ini meski masih primitif. Fiturnya pemutar musiknya masih seadanya dan bahkan tidak bisa berjalan di background(multi tasking). Cukup mengganggu bagi saya karena dengan e398 saya terbiasa mendengarkan musik sambil membaca file-file txt. Namun di sisi lain dalam hal aplikasi java, handset siemens unggul, terutama dalam hal access file system. Pada handset-handset siemens baru(dalam hal ini yang saya tahu pasti seri 75), memberi ijin aplikasi untuk mengakses atau membuka file dari dalam memori hape atau dari memory card sangat mudah untuk dilakukan. Jadi pada awal penggunaan aplikasi biasanya akan ada pertanyaan apakah akan memberi ijin aplikasi untuk mengakses file internal atau tidak. Sekali diberi ijin biasanya tidak akan muncul lagi prompt-prompt security yg menyebalkan.(satu hal yang tidak didapati pada handset-handset sony ericsson,nokia-nokia s40, sedangkan pada handset motorola pemberian ijin aplikasi untuk mengakses file harus dilakukan pada saat instalasi yang bisa dilakukan dengan motomidman). Ini sangat memudahkan instalasi dan penggunaan aplikasi2 yang butuh akses ke file internal macam photoeditor,txt editor dan music player bikinan pihak ketiga. Ini membuat siemens cx75 saya lebih 'berdaya' dan sedikit banyak mendekati kemampuan ponsel smartphone. Apalagi banyak aplikasi kantoran macam office dan pdf viewer,zip manager yang bisa dibenamkan kedalamnya. Ditambah lagi kemampuannya untuk mengkopi aplikasi java, bahkan yang sudah terinstal ke handset lain melalui infra red ataupun blue tooth. Satu hal yang jarang pada ponsel non smartphone yang sekedar mengandalkan aplikasi java. Dalam hal java ini saya sungguh salut pada siemens, terutama seri 75, yang kemampuannya luar biasa,fleksibilitasnya, dan sangat mudah digunakan.
Di sektor kamera cx75 dilengkapi dengan kamera beresolusi maksimal 1,3megapixel. Hasil fotonya cukup detil dan penangkapannya relatif cepat. Namun sayang warnanya jadi agak cenderung pucat dan tidak menarik.
Di kondisi agak gelap hasil foto turun drastis menjadi penuh noise aneh. Hasil rekaman video nya juga biasa saja. Walau sepertinya diposisikan sebagai ponsel multi media namun sepertinya siemens masih setngah-setengah dalam memberikan fiturnya. Hal ini terlihat pada music player yang primitif dan kamera yang sangat biasa saja.

Thursday, 4 October 2007

motorola c550

motorola c550
Nah, kalo yang ini adalah hape perama saya yg berlayar warna dan sekaligus yang pertama yang berkamera terintegrasi. Pertimbangan pada waktu mau beli ya sudah jelas ada kameranya itu. Lalu bentuknya juga kucil dan lucu. Kira-kira masih imbang dengan siemens c55 yang kupakai sebelumnya.

Bentuknya agak sedikit kotak dengan warna casing yang dominan abu-abu metalik dengan sedikit warna hijau di keypad dan sekeliling layar. Keypadnya juga kecil-kecil dan agak menonjol. Tidak terlalu nyaman digunakan untuk mengetik. Untuk navigasi ada navi pad 4 arah dengan tombol menu khas motorola di tengahnya. Layarnya sudah berwarna. Namun hampir bisa dibilang agak sia-sia karena resolusinya yang sangat kecil, yaitu hanya 101x80pixels. Gambar tertampil kasar di layarnya. Saat berfungsi sebagai viewfinder kameranyapun tidak begitu jelas. Hampir seperti bermain tebak-tebakan gambar apa yang ada dilayar. Tapi kondisi ini bisa sedikit diatasi dengan menggunakan wallpaper yang berwarna cerah dengan kontras tinggi. Dengan begitu tampilan layar saat standby jadi nggak terlalu parah-parah amat. Hehehe. Kameranya ber resolusi VGA. Lumayan sih sebetulnya pada saat itu, karena banyak hape lain yang kameranya baru sebatas CIF. Namun seperti seperti sudah disebut sebelumnya, layarnya yang imut menjadi kendala saat digunakan membidik foto. Susah untuk menghasilkan gambar yang bagus karena yang terlihat dilayar sangat tidak jelas.
Dari segi audio juga sudah mendukung ringtone midi dan amr. Sedikit mundur dari siemens c55 yang sudah mendukung file wav.
Handset ini juga sudah support aplikasi java. Jadi bisa diinstall game dan aplikasi baru, yang tentunya kini support games berwarna. Tapi lagi-lagi terbentur di permasalahan resolusi layar yang menyebabkan banyak game tidak bisa dimainkan karena ukuran layar c550 yang terlalu kecil.
Untuk koneksi, satu-satunya jalan untuk menghubungkannya ke PC adalah dengan kabel miniUSB. Dengan catatan terlebih dahulu meng install driver nya di PC. Oya memori internal hape ini cuman sekitar 2mb an. Tapi cukup wajar mengingat baru sekedar support ringtone midi dan amr.
Yang jelas kuingat, c550 ini adalah pengalaman pertamaku mulai mengutik2 daleman hape, dalam hal ini khususnya motorola. Waktu itu aku sekedar mengganti-ganti tampilan menunya dan menghapus ringtone-ringtone bawaannya.

siemens c55

siemens c55.
Ini dia hape pertama yang saya beli dengan uang gaji sendiri. Pertimbangan waktu akan membeli handset ini adalah bentuknya yang imut, changeable cover, gprs dan java enabled(walau saat itu sebenarnya saya masi agak meraba-raba tentang pengertian gprs dan java).

Saya beli c55 berwarna putih semu kuning lemon(nah lho, bingung kan?) yang casing nya glow-in-the-dark. Casing nya memang gampang sekali dilepas dan diganti-ganti. Langsung saja saya membeli casing pengganti dengan bermacam warna aneh. Hehehe. Bentuknya yang imut enak dipegang dan keypad nya tetap enak dipake buat ber-sms ria walau tombolnya agak kecil-kecil.

Tentang jerohan-nya, siemens c55 cukup memuaskan(pada masanya tentu saja). Dengan harga sejutaan saya sudah mendapat handset dengan ringtone midi, wav, dan amr. Bisa rekam suara. Layarnya masih monokrom tapi sudah bisa pasang logo dan screensaver. Support file gambar bmp,bmx monokrom. Dengan gprs nya dia jadi bener2 ber-daya dalam hal personalisasi untuk mencari-cari ringtone dan logo-logo baru. Gprs nya juga memungkinkan saya untuk mendownload game-game maupun aplikasi baru berbasis j2me ke dalam handset saya. Saat itu bisa mendownload game ke dalam hape bener-benar suatu hal yang sangat baru dan hampir tak terbayangkan sebelumnya. Siemens c55 benar-benar seperti suatu petualangan baru dengan kemampuannya menjelajah alam maya. Suatu lompatan dari c35 yang nyaris tanpa personalisasi. Pada masa pemakaian c55 inilah saya benar2 gila2an bongkar pasang game di hape via gprs. (lagipula hanya itu sarana koneksi yang saya miliki, kabel data c55 terlampau mahal, sekitar 300ratus ribu-an)

siemens c35

Siemens C35 adalah salah satu handset yang saya gunakan cukup lama. Dari mulai saya beli menjelang kelulusan dari universitas hingga 1,5 tahun pertama saya kerja di Jakarta.

Saya ingat waktu itu saya benar-benar awam soal handphone. Saat berputar-putar di suatu pusat perdagangan hape di Jogja, dalam benak saya sama sekali belum ada bayangan handset seperti apa yang akan saya beli. Yang jelas saya ingat bahkan meski ketika itu saya masih asing dengan dunia per-hape-an pun, saya sudah memiliki kecenderungan untuk memilih merk selain Nokia. Waktu itu saya lebih memilih untuk mencari siemens. Sempat melihat Siemens c25 bekas pakai di salah satu counter. Saya sudah tertarik melihat bentuknya yang lucu seperti pisang ramping. Tapi abang saya menyarankan untuk melihat-lihat ke tempat lain dahulu. Akhirnya kami menemukan sebuah counter yang memajang kotak Siemens C35. Melihat bentuk dan warnanya yang biru tua saya cukup tertarik. Apalagi setelah menanyakan harganya. Pas sekali dengan budget yang sudah ditetapkan. Maklum namanya juga masih dibelikan ortu. Jadi mau nggak mau ya harus ngikut budget ketat itu.
Jadilah saya beli siemens c35 berwarna biru tua. Fiturnya tidak ada yang luar biasa. Ya cukup tipikal hape pada masa itu lah. Layar monokrom. Ringtone monofonik. Bisa sms. Ada scheduler.Ada ringtone composer dan selipan-selipan grafis untuk sms sudah cukup menghibur pada waktu itu. Ada beberapa games yang kalau dipikir2 dari sudut pandang sekarang sangat membosankan. Tapi untuk saat itu sudah sangat beruntung memiliki games dalam hape. Yang jelas hape jadul macam ini justru lebih tangguh. bahkan hingga tahun 2007 ini pun handset ini masih bisa berfungsi dengan cukup baik. Hanya baterai nya saja yang kadang mendadak drop.